Pages

Minggu, 12 Mei 2013

Barcelona Te Amo









Judul Buku: Barcelona Te Amo
Penulis: Kireina Enno
Tebal: vi + 266 hlm; 13 x 19 cm
Cetakan: 1, Februari 2013
Penerbit: Bukune

 



Tadinya, musim panas selalu muram.
Lalu, dia datang dengan senyumnya yang indah,
ketika waktu mendamba detik-detik yang hangat
dari matanya. Entah bagaimana, hati Katya begitu dingin
ketika menepis uluran tangan laki-laki itu.

Kesepian pun menghantamnya.
Sepanjang La Rambla, angin menepi.
Sayap-sayapnya membawa Katya menari
di antara pilar-pilar Gothic Quarter yang sunyi.
Membangkitkan rindu kepadanya,
seperti ombak kepada pantai yang menunggu.

Maka, di sinilah Katya berada kini.
Menyambut genggaman tangannya.
Di Placa de Catalunya, tempat merpati bercengkerama.
Ketika matahari menyinari Barcelona.
Dia bagai musim panas yang begitu indah.
"Te amo," pelan ucap Katya.

Akankah dia dengar?

(Dari sampul belakang novel) 


Barcelona Te Amo karya Kireina Enno diterbitkan sebagai bagian dari proyek kolaborasi Bukune dan GagasMedia, Setiap Tempat Punya Cerita. Sebagaimana termaktub dalam judulnya, novel ini mengambil latar utama Barcelona, sebuah kota modern sekaligus klasik dan indah di Spanyol. Keindahan kota yang pernah menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 1992 pernah dituangkan ke dalam lagu Barcelona yang dinyanyikan duet oleh mendiang Freddie Mercury dan Montserrat Caballe, penyanyi opera asal Barcelona. Fariz RM, musisi Indonesia, pernah menggubah lagu tentang kisah cinta dan perpisahan di kota itu dengan judul sama,Barcelona.

Katya Sadewi pergi ke Barcelona untuk mengambil kuliah di Fakultas Seni Universitat de Barcelona. Di sana, ia bermaksud mengasah kemampuan melukisnya. Tapi sebenarnya, ada hal lain yang memantabkannya meninggalkan Indonesia. Di Jakarta, Katya terlibat cinta segitiga dengan Alexandra Hadiningrat dan Evander Mulya. Sandra adalah putri Prana Hadiningrat yang membesarkan Katya setelah kematian kedua orangtuanya, sedangkan Evan adalah sahabat akrab Katya dan Sandra. Evan sendiri tidak bisa memastikan siapa yang akan menjadi kekasihnya, karena ia mencintai kedua gadis itu. Katya yang sudah terbiasa mengalah untuk Sandra, memutuskan menerima tawaran Prana yang menginginkannya kuliah di almamaternya, Universitat de Barcelona. Sementara Sandra dan Evan tetap berada di Jakarta dan akhirnya menjadi sepasang kekasih.

Selain kuliah, Katya menghabiskan waktu bekerja di Galeri d'Espana, galeri seni milik pasangan Isidro dan Maria Alvarez yang terletak di Barri Gothic, tepat di jantung Barcelona. Di galeri seni inilah, Manuel Estefan, seorang kurator seni ternama, melihat lukisan sekuntum dandelion, salah satu lukisan Katya. Manuel sedang mencari karya baru untuk disertakan dalam pameran besar yang akan diadakannya di Centre de Cultura Contemporania de Barcelona. Menemukan kedalaman penjiwaan yang terpancar dari lukisan dandelion, Manuel berniat mengajak Katya untuk bergabung dalam pamerannya.

Tawaran Manuel tidak serta-merta disambut dengan baik oleh Katya. "
Saya melukis bukan untuk mencari ketenaran. Saya melukis untuk menuangkan perasaan," kata Katya (hlm. 71). Tapi setelah terlibat perbincangan dengan Lucia Marino, teman kuliahnya, ia pun bersedia terlibat dalam pameran besar itu. Manuel memintanya membuat satu lukisan lagi guna melengkapi yang sudah ada, sebuah lukisan yang diciptakan dengan penjiwaan setara dengan lukisan Dandelion. Katya memutuskan menggurat kanvas, mendedahkan kisah perpisahan Subadra dan Arjuna di depan gerbang Istana Dwaraka. Bagi Katya, Subadra, perempuan dari lakon Mahabharata, adalah simbol kesetiaan perempuan.

Lukisannya belum rampung ketika keinginan untuk melukisnya tersendat. Hal ini dipicu oleh kemunculan Sandra secara mendadak di Barcelona dan tinggal bersamanya. Setelah hubungan asmaranya dengan Evan kandas, Sandra memutuskan mengambil cuti kuliah, meninggalkan Jakarta dan mengunjungi Katya di Barcelona. Tapi ternyata, bukan cuma Sandra yang tiba di Barcelona. Begitu memutuskan Sandra karena merasa tidak sanggup lagi menjaganya, Evan menjalankan tugas kantor ke Kopenhagen, Denmark. Dari sana, ia pergi ke Barcelona untuk menjumpai Katya dan  mendapati Sandra berada di apartemen Katya.

Kedatangan kedua orang itu menciptakan gangguan yang signifikan dalam kehidupan Katya. Sandra yang terpesona dengan Manuel, beralasan sedang membuat tugas kuliah -padahal sedang cuti kuliah- mencoba memikat Manuel dengan memaksa laki-laki itu menemaninya jalan-jalan di Barcelona. Evan berdalih sedang menulis buku tentang arsitektur karya Antoni Gaudi di Barcelona singgah di apartemen Katya, mencoba membuat gadis itu menerima cintanya, cinta yang lebih besar ketimbang cintanya pada Sandra.

Diam-diam, Katya merasa ada gejolak yang berbeda dalam hatinya. Ia tidak menemukan perasaan yang sama seperti semasa berada di Jakarta terhadap Evan. Malah, terbit kecemburuan manakala Sandra berupaya memborong waktu Manuel  bagi dirinya sendiri. Mungkinkah ia mencintai kurator yang berwajah dingin itu?

Barcelona Te Amo adalah novel kedua Kireina Enno yang telah diterbitkan. Sebelumnya, ia telah meluncurkan novel romantis berjudul Selamanya Cinta (2012). Sebagaimana diuraikan sebelumnya, tema yang diangkat, masih tidak beranjak dari tema novel-novel Setiap Tempat Punya Cerita yang telah terbit, Paris (Prisca Primasari) dan Last Minute in Manhattan (Yoana Dianika). Cinta, sekali lagi, masih dominan. Mirip dengan Last Minute in Manhattan, karakter utamaBarcelona Te Amo juga digerakkan oleh patah hati. Karena temanya sudah generik dan tidak sulit untuk menebak konklusinya, menjadi tantangan besar bagi Enno untuk menghasilkan novel yang tetap bisa memikat pembaca sampai tamat.

Saya kira, Enno cukup berhasil. Ia mampu menggulirkan adegan demi adegan secara tepat dan tidak berlebihan sampai adegan pamungkas yang melegakan. Ia didukung kemampuan merangkai kalimat yang tidak berbelit-belit dan cukup sedap dibaca. Alhasil, meski kisah yang diusungnya sama sekali tidak provokatif, masih tetap bisa ditamatkan dengan pembacaan yang lancar.

Dalam hal karakterisasi, Enno tidak meragukan. Sosok-sosok yang diciptakannya, dengan gampang bisa diimajinasikan dalam benak kita. 

Katya, gadis sederhana yang lebih mementingkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Saking rendah hatinya, ia tidak bisa melihat kelebihan-kelebihan dirinya. Bukan cuma dalam hal melukis, melainkan juga dalam berinteraksi dengan orang lain. Kecuali Sandra, semua tokoh yang bersinggungan dengan kehidupannya, memiliki pandangan positif terhadapnya. 

Sandra, gadis yang manja, egois, dan senang memanfaatkan orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri. Setiap membuat masalah, ada Katya dan Evan yang akan mencarikan solusi baginya. Tapi, setelah Katya pergi dan Evan tidak sanggup lagi berhubungan dengannya, ia kehilangan proteksi. Berkebalikan dengan Katya, kendati berpenampilan cantik, interaksinya dengan orang lain kerap tidak mendapatkan penilaian positif. Bahkan, ayahnya sendiri, lebih menyenangi Katya dibandingkan anak kandungnya, dan menjadikan Katya sebagai standar bagi Sandra. Tidak heran, sekalipun Katya tidak pernah berbuat kesalahan kepadanya, Sandra selalu memandang Katya sebagai seteru. 

Evan adalah karakter paling labil dalam novel ini. Sejak awal ia tidak bisa mengambil keputusan, yang mungkin disebabkan latar belakang keluarganya yang disfungsional. Katya yang merasa perlu membuatnya mengambil keputusan dengan meninggalkan Indonesia. Tapi, sepeninggal Katya, ia menemukan kaca pembesar yang memperlihatkan kekurangan-kekurangan Sandra, dan memutuskan kalau Katya-lah yang terbaik. 

Manuel, karakter yang memiliki kecenderungan introvert, terutama terhadap para gadis, sehingga sering menciptakan salah pengertian. Setelah hubungannya dengan Milene berakhir sebelum memanjat pelaminan, ia sukar mempercayai cinta dan lawan jenisnya. Tapi setelah mengenal Katya dan misteri kesedihan yang menyemburat dari lukisan-lukisannya, lambat laun Manuel mengalami perubahan. Perubahannya ditandai dengan menipisnya sikap dingin dan gaya berpakaian yang menjadi lebih kasual.

Karena cerita berseting utama Barcelona, sudah semestinya tempat-tempat di kota yang berkembang berdasarkan inspirasi Gaudi itu bermunculan dalam novel ini. Maka, bersama para tokoh, kita akan menyusuri La Rambla, pedestrian panjang dengan kafe, kios, dan seniman jalanannya. Mencermati guratan tangan Picasso di Museum Picasso. Mengagumi keindahan katedral Sagrada Familia dengan tiga fasad yang mengisahkan kehidupan Yesus Kristus. Menari di pelataran Museu Nacional di sela-sela banjir cahaya Font Màgica de Montjuïc. Menonton merpati-merpati bercengkerama sambil mematuki remah-remah di Plaça de Catalunya. Menyaksikan festival penduduk Catalan yang diramaikan dengan acara membangun 
castell atau human tower di
 Plaça Sant Jaume. Menikmati kuliner di Els Quatre Fats sembari membayangkan Picasso remaja yang berkunjung. Tapi tetap saja, masih banyak tempat-tempat indah di Barcelona yang menghilang dari dalam novel ini dan membuat rasa puas sedikit berkurang. Jika penulis pernah bermukim di Barcelona, akan lebih memungkinkan baginya untuk menghasilkan kisah berlatar Barcelona yang lebih memukau, tanpa menjadikan novelnya sebagai buku panduan melancong.

Terlepas dari itu, Barcelona Te Amo tetap merupakan novel yang pantas dibaca. Secara umum, sebagai novel romantis, memang tidak mengecewakan. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Minggu, 12 Mei 2013

Barcelona Te Amo









Judul Buku: Barcelona Te Amo
Penulis: Kireina Enno
Tebal: vi + 266 hlm; 13 x 19 cm
Cetakan: 1, Februari 2013
Penerbit: Bukune

 



Tadinya, musim panas selalu muram.
Lalu, dia datang dengan senyumnya yang indah,
ketika waktu mendamba detik-detik yang hangat
dari matanya. Entah bagaimana, hati Katya begitu dingin
ketika menepis uluran tangan laki-laki itu.

Kesepian pun menghantamnya.
Sepanjang La Rambla, angin menepi.
Sayap-sayapnya membawa Katya menari
di antara pilar-pilar Gothic Quarter yang sunyi.
Membangkitkan rindu kepadanya,
seperti ombak kepada pantai yang menunggu.

Maka, di sinilah Katya berada kini.
Menyambut genggaman tangannya.
Di Placa de Catalunya, tempat merpati bercengkerama.
Ketika matahari menyinari Barcelona.
Dia bagai musim panas yang begitu indah.
"Te amo," pelan ucap Katya.

Akankah dia dengar?

(Dari sampul belakang novel) 


Barcelona Te Amo karya Kireina Enno diterbitkan sebagai bagian dari proyek kolaborasi Bukune dan GagasMedia, Setiap Tempat Punya Cerita. Sebagaimana termaktub dalam judulnya, novel ini mengambil latar utama Barcelona, sebuah kota modern sekaligus klasik dan indah di Spanyol. Keindahan kota yang pernah menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 1992 pernah dituangkan ke dalam lagu Barcelona yang dinyanyikan duet oleh mendiang Freddie Mercury dan Montserrat Caballe, penyanyi opera asal Barcelona. Fariz RM, musisi Indonesia, pernah menggubah lagu tentang kisah cinta dan perpisahan di kota itu dengan judul sama,Barcelona.

Katya Sadewi pergi ke Barcelona untuk mengambil kuliah di Fakultas Seni Universitat de Barcelona. Di sana, ia bermaksud mengasah kemampuan melukisnya. Tapi sebenarnya, ada hal lain yang memantabkannya meninggalkan Indonesia. Di Jakarta, Katya terlibat cinta segitiga dengan Alexandra Hadiningrat dan Evander Mulya. Sandra adalah putri Prana Hadiningrat yang membesarkan Katya setelah kematian kedua orangtuanya, sedangkan Evan adalah sahabat akrab Katya dan Sandra. Evan sendiri tidak bisa memastikan siapa yang akan menjadi kekasihnya, karena ia mencintai kedua gadis itu. Katya yang sudah terbiasa mengalah untuk Sandra, memutuskan menerima tawaran Prana yang menginginkannya kuliah di almamaternya, Universitat de Barcelona. Sementara Sandra dan Evan tetap berada di Jakarta dan akhirnya menjadi sepasang kekasih.

Selain kuliah, Katya menghabiskan waktu bekerja di Galeri d'Espana, galeri seni milik pasangan Isidro dan Maria Alvarez yang terletak di Barri Gothic, tepat di jantung Barcelona. Di galeri seni inilah, Manuel Estefan, seorang kurator seni ternama, melihat lukisan sekuntum dandelion, salah satu lukisan Katya. Manuel sedang mencari karya baru untuk disertakan dalam pameran besar yang akan diadakannya di Centre de Cultura Contemporania de Barcelona. Menemukan kedalaman penjiwaan yang terpancar dari lukisan dandelion, Manuel berniat mengajak Katya untuk bergabung dalam pamerannya.

Tawaran Manuel tidak serta-merta disambut dengan baik oleh Katya. "
Saya melukis bukan untuk mencari ketenaran. Saya melukis untuk menuangkan perasaan," kata Katya (hlm. 71). Tapi setelah terlibat perbincangan dengan Lucia Marino, teman kuliahnya, ia pun bersedia terlibat dalam pameran besar itu. Manuel memintanya membuat satu lukisan lagi guna melengkapi yang sudah ada, sebuah lukisan yang diciptakan dengan penjiwaan setara dengan lukisan Dandelion. Katya memutuskan menggurat kanvas, mendedahkan kisah perpisahan Subadra dan Arjuna di depan gerbang Istana Dwaraka. Bagi Katya, Subadra, perempuan dari lakon Mahabharata, adalah simbol kesetiaan perempuan.

Lukisannya belum rampung ketika keinginan untuk melukisnya tersendat. Hal ini dipicu oleh kemunculan Sandra secara mendadak di Barcelona dan tinggal bersamanya. Setelah hubungan asmaranya dengan Evan kandas, Sandra memutuskan mengambil cuti kuliah, meninggalkan Jakarta dan mengunjungi Katya di Barcelona. Tapi ternyata, bukan cuma Sandra yang tiba di Barcelona. Begitu memutuskan Sandra karena merasa tidak sanggup lagi menjaganya, Evan menjalankan tugas kantor ke Kopenhagen, Denmark. Dari sana, ia pergi ke Barcelona untuk menjumpai Katya dan  mendapati Sandra berada di apartemen Katya.

Kedatangan kedua orang itu menciptakan gangguan yang signifikan dalam kehidupan Katya. Sandra yang terpesona dengan Manuel, beralasan sedang membuat tugas kuliah -padahal sedang cuti kuliah- mencoba memikat Manuel dengan memaksa laki-laki itu menemaninya jalan-jalan di Barcelona. Evan berdalih sedang menulis buku tentang arsitektur karya Antoni Gaudi di Barcelona singgah di apartemen Katya, mencoba membuat gadis itu menerima cintanya, cinta yang lebih besar ketimbang cintanya pada Sandra.

Diam-diam, Katya merasa ada gejolak yang berbeda dalam hatinya. Ia tidak menemukan perasaan yang sama seperti semasa berada di Jakarta terhadap Evan. Malah, terbit kecemburuan manakala Sandra berupaya memborong waktu Manuel  bagi dirinya sendiri. Mungkinkah ia mencintai kurator yang berwajah dingin itu?

Barcelona Te Amo adalah novel kedua Kireina Enno yang telah diterbitkan. Sebelumnya, ia telah meluncurkan novel romantis berjudul Selamanya Cinta (2012). Sebagaimana diuraikan sebelumnya, tema yang diangkat, masih tidak beranjak dari tema novel-novel Setiap Tempat Punya Cerita yang telah terbit, Paris (Prisca Primasari) dan Last Minute in Manhattan (Yoana Dianika). Cinta, sekali lagi, masih dominan. Mirip dengan Last Minute in Manhattan, karakter utamaBarcelona Te Amo juga digerakkan oleh patah hati. Karena temanya sudah generik dan tidak sulit untuk menebak konklusinya, menjadi tantangan besar bagi Enno untuk menghasilkan novel yang tetap bisa memikat pembaca sampai tamat.

Saya kira, Enno cukup berhasil. Ia mampu menggulirkan adegan demi adegan secara tepat dan tidak berlebihan sampai adegan pamungkas yang melegakan. Ia didukung kemampuan merangkai kalimat yang tidak berbelit-belit dan cukup sedap dibaca. Alhasil, meski kisah yang diusungnya sama sekali tidak provokatif, masih tetap bisa ditamatkan dengan pembacaan yang lancar.

Dalam hal karakterisasi, Enno tidak meragukan. Sosok-sosok yang diciptakannya, dengan gampang bisa diimajinasikan dalam benak kita. 

Katya, gadis sederhana yang lebih mementingkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Saking rendah hatinya, ia tidak bisa melihat kelebihan-kelebihan dirinya. Bukan cuma dalam hal melukis, melainkan juga dalam berinteraksi dengan orang lain. Kecuali Sandra, semua tokoh yang bersinggungan dengan kehidupannya, memiliki pandangan positif terhadapnya. 

Sandra, gadis yang manja, egois, dan senang memanfaatkan orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri. Setiap membuat masalah, ada Katya dan Evan yang akan mencarikan solusi baginya. Tapi, setelah Katya pergi dan Evan tidak sanggup lagi berhubungan dengannya, ia kehilangan proteksi. Berkebalikan dengan Katya, kendati berpenampilan cantik, interaksinya dengan orang lain kerap tidak mendapatkan penilaian positif. Bahkan, ayahnya sendiri, lebih menyenangi Katya dibandingkan anak kandungnya, dan menjadikan Katya sebagai standar bagi Sandra. Tidak heran, sekalipun Katya tidak pernah berbuat kesalahan kepadanya, Sandra selalu memandang Katya sebagai seteru. 

Evan adalah karakter paling labil dalam novel ini. Sejak awal ia tidak bisa mengambil keputusan, yang mungkin disebabkan latar belakang keluarganya yang disfungsional. Katya yang merasa perlu membuatnya mengambil keputusan dengan meninggalkan Indonesia. Tapi, sepeninggal Katya, ia menemukan kaca pembesar yang memperlihatkan kekurangan-kekurangan Sandra, dan memutuskan kalau Katya-lah yang terbaik. 

Manuel, karakter yang memiliki kecenderungan introvert, terutama terhadap para gadis, sehingga sering menciptakan salah pengertian. Setelah hubungannya dengan Milene berakhir sebelum memanjat pelaminan, ia sukar mempercayai cinta dan lawan jenisnya. Tapi setelah mengenal Katya dan misteri kesedihan yang menyemburat dari lukisan-lukisannya, lambat laun Manuel mengalami perubahan. Perubahannya ditandai dengan menipisnya sikap dingin dan gaya berpakaian yang menjadi lebih kasual.

Karena cerita berseting utama Barcelona, sudah semestinya tempat-tempat di kota yang berkembang berdasarkan inspirasi Gaudi itu bermunculan dalam novel ini. Maka, bersama para tokoh, kita akan menyusuri La Rambla, pedestrian panjang dengan kafe, kios, dan seniman jalanannya. Mencermati guratan tangan Picasso di Museum Picasso. Mengagumi keindahan katedral Sagrada Familia dengan tiga fasad yang mengisahkan kehidupan Yesus Kristus. Menari di pelataran Museu Nacional di sela-sela banjir cahaya Font Màgica de Montjuïc. Menonton merpati-merpati bercengkerama sambil mematuki remah-remah di Plaça de Catalunya. Menyaksikan festival penduduk Catalan yang diramaikan dengan acara membangun 
castell atau human tower di
 Plaça Sant Jaume. Menikmati kuliner di Els Quatre Fats sembari membayangkan Picasso remaja yang berkunjung. Tapi tetap saja, masih banyak tempat-tempat indah di Barcelona yang menghilang dari dalam novel ini dan membuat rasa puas sedikit berkurang. Jika penulis pernah bermukim di Barcelona, akan lebih memungkinkan baginya untuk menghasilkan kisah berlatar Barcelona yang lebih memukau, tanpa menjadikan novelnya sebagai buku panduan melancong.

Terlepas dari itu, Barcelona Te Amo tetap merupakan novel yang pantas dibaca. Secara umum, sebagai novel romantis, memang tidak mengecewakan. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar