Pages

Kamis, 17 Mei 2012

tugas SINOPSIS NOVEL waktu kelas 8 :D


 
TUGAS SINOPSIS NOVEL
“MEMORABILIA”
Oleh : GINNY LYNN


Nama             : Rini Dwi Astuti
                      No/kelas         : 18/8B


MEMORABILIA
ADA sebuah jalan di daerah sibuk, di kompleks ruko pusat niaga. Di sana banyak orang dan mobil berlalu lalang. Banyak butik dan took buku, serta kafe berjejeran. Sekarang sudah malam, tetapi masih saja ramai. Salah satu kafe paling ramai adalah kafe yang berjendela besar dan berkanopi hitam strip putih vertical bertuliskan bucketkoFi. Kenapa bucket dan bukannya ember? Sebenarnya, nama bucket diambil dari kegemaran si pemilik, Ibu Sofia, dengan topi jenis buckethat. Karena itu, namanya bucket, bucketkoFi. Suasana di dalam sangat nyaman. Kafe yang agak luas ini berikut toko buku. Spesialisasinya buku seni untuk kalangan para seniman. Karena itu, tidak urung mejanya besar-besar dan lebar-lebar agar para seniman, dari arsitek sampai desainer mainan,  bisa leluasa membuat sketsa. Kamar mandinya kecil, maklum kamar mandi karyawan. Tetapi, lampunya terang. Di sana terdapat cermin standar yang sekarang memantulkan profil dara yang sudah berusia genap 17 tahun dua minggu lalu, bernama lengkap Mayang Mustika Puspa. Manyang tengah membuka seragamnya. Dan dari cermin terlihat jelas belulang rusuknya menonjol. Anak ini terlihat kurang makan. Tidak ada yang istimewa. Dia biasa saja. Wajahnya khas melayu dengan mata jernih cemerlang. Pada saat itu semuanya sempurna. Lalu, datang hari di mana ayahnya dipanggil tugas, sebagai seorang wartawan untuk meliput berita yang tidak pernah dimuat, yang merenggut jiwanya dan meninggalkan jasad untuk ditangisi. Yang tidak saja demikian nasib membuatnya jatuh, tapi juga menyerbu rumah satu-satunya, membakarnya, dan memerkosa ibunya yang begitu lembut dan baik hati, dan meninggalkan mereka dua tubuh untuk dilayat, tanpa atap, tanpa rumah, tanpa uang. Hanya Mayang dan Iswa. Mereka mengenangnya sebagai peristiwa Mei’98. Dan, mereka bukan satu-satunya orang yang menangis.
Mayang melipat seragamnya untuk dipakai lagi besok, dimasukkannya dengan hati-hati ke dalam ransel. Kemudian, dia menegakkan punggung dan memanggul ranselnya. Sama seperti ketika dia menegakkan punggungnya dan melapangkan dada, menerima fakta dia harus tinggal dengan kakak ayahnya, Om Sakta dan Tante Donna. Mereka tidak terlalu senang harus kedatangan penghuni baru karena keuangan mereka sendiri pas-pasan. Dan bukan hanya itu. Tinggal dengan keluarga Haraitoni berarti juga harus menghadapi Benji dan Novita, sepupunya. Dan, Mayang melakukan apapun sekuatnya untuk melindungi adiknya. Dia bersumpah akan keluar dari sana. Tapi, bukan sekarang. Suatu saat kalau dia sudah punya kekuatan untuk itu.
Mayang keluar dari bucketkoFi dan menuju halte bus. Malam sudah turun tanpa bintang, hanya ada lampu jalanan benderang. Satu, satu, satu yang mati dan nyala lagi. Mayang memandangi mobil berlalu-lalang. Besok ada ujian Matematika akselerasi. Dia belum belajar. Tubuhnya terasa begitu lelah, seperti mau patah-patah setiap engselnya. Sepertinya, kakinya tidak kuat untuk berjalan lagi. Dia lelah. Sudah empat malam dia begadang untuk belajar karena ujian akhir. Tidak ada pilihan untuk Mayang, dia murid beasiswa. Dia tidak pintar, tetapi hanya itu satu-satunya pilihan yang dia punya. Dia harus tetap sekolah. Mayang percaya itu keinginan orang tuanya.
Mayang membuka pagar pendek rumahnya. Dia tidak bisa berpikir apa-apa lagi selain tidur. Perut lapar bukan masalah, yang penting sesudah belajar dia langsung tidur. Melihat absennya Minivan om dan tantenya, Mayang bisa menduga mereka pergi lagi ke kondangan atau acara-acara seperti itu. Baguslah, pikir Mayang, dia capek. Dia tidak berniat bertemu dengan tantenya sekarang. Apalagi omnya. Tapi begitu dia masuk, dia sadar, ada mobil pacar Novita. Mayang tidak mau peduli lagi, dia mau masuk, mandi kilat, belajar kilat, tidur secepat kilat.
Sementara itu, di bucketkoFi yang setengah jam yang lalu ditinggalkan Mayang, teman sejawatannya, Listy, tengah bersiap untuk menutup kafe. Lalu, dia mematikan lampu. Dan matanya terpaku, sekali lagi, pada tiga potret hitam putih yang dicetak besar dan dipajang di tembok di sebelah mural. Potret seorang ibu menggendong anaknya, potret matahari di balik gedung tinggi, yang membuat gedung itu tampak hitam, dan yang paling besar, potret bucketkoFi ketika hujan. Setiap melihatnya, Listy selalu merasakan getaran yang sama, bagaimana emosi, arti, dan nyawa, semuanya tertangkap, terlihat jelas pada setiap potret. Semua pengunjung nukan hanya indah, tetapi seperti punya arti tersendiri. Seperti orang ratu memakai topeng. Artinya tersembunyi. Dan para penontonnya hanya bisa menebak karena potretnya begitu hidup, begitu nyata, di sana.
Saat itu, Mayang ingat sekali ia sedang ujian bahasa. Pengawasnya cukup ketat, namanya Ibu Pudjiastuti, guru Biologi yang terkenal galak (sebenarnya kata disiplin lebih pantas. Tetapi, tidak ada yang mengakui kalau Bu Pudji adalah guru yang disiplin sebelum satu tahun sesudah ia pensiun). Mayang sudah sampai nomor terakhir ketika dia sadar kalau nomor 47 di lembar jawaban komputernya ada dua yang ia hitami. Lalu, dia mencocokkan soal dan jawaban. Mampus, dia mengeluh dalam hati. Dia salah nomor. Lihat sekarang, dia mengerjakan nomor 49, padahal soalnya nomor 50. Hal seperti ini jarang sekali terjadi pada Mayang, mengingat dia sangat hati-hati. Tetapi, kali ini kejadiannya seperti ini. Dia mengaduk-aduk kotak pensil. Dan sialnya, dia lupa bawa penghapus. Dia melirik jam, masih ada setengah jam lagi. Dia harus ke depan, ke tempat dimana tasnya berada, dan mengambil penghapus yang dia yakin sekali ada di kantong depan tasnya. Tapi, dengan Bu Pudji jadi pengawas?... sejenak dia ragu. Tapi kalau dia tidak ke depan dan mengambil penghapusnya, bagaimana dia bisa selamat? Mayang lalu mengambil risiko dengan berjalan ke depan diiringi kepala-kepala naik dengan penasaran dan memberanikan diri bertanya.
Yang Mayang ingat lagi, saat itu teman-teman sekelasnya sudah tidur lima belas menit menjelang bel ujian selesai. Sementara Bu Pudji sedang bercakap-cakap tentang pasar di lingkungan sekolah yang kemarin terbakar. Mayang juga nyaris tidur kalau bukan mengingat dua jawaban yang dia tahu pasti sempurna itu harus salah. “Nih,” seseorang memberikan penghapus Faber Castell yang masih rapi berwarna hijau padanya. Orang itu duduk di sebelahnya, bernama Kahleen Blanc. Dia adalah anak dari pensiunan diplomat Prancis dan seorang wanita santun berdarah Sunda. Kahleen terkenal karena cantik. Kulitnya putih susu, mengimbangi tubuh kurus, dan tingginya, membuatnya terlihat sebagai Gwyneth Paltrow dengan mata besar dan rambut hitam. Hidungnya ramping sekali, dan kulitnya mulus. Dan terlebih, Kahleen Blanc terkenal karena dia adalah seorang ballerina. Sering sudah dia pentas di karya tari kenamaan Indonesia. Beberapa kali menari di Australia, bahkan Inggris. Dan kalau dia tidak masuk sekolah, teman-teman sekelasnya akan rebut sekali, ke mana Kahleen? Hari ini dia pentas di mana?
Saat disodori penghapus oleh Kahleen, Mayang kaget. Kaget karena ada yang mau menolong dia dan kaget karena yang menolongnya adalah Kahleen. Reputasi Kahleen tidak bisa lagi dipungkiri kalau dia adalah orang yang terkenal. Mungkin karena itu juga, Kahleen cenderung angkuh. Angkuh, catat, bukan sombong. Dia tidak mau sembarangan bicara dengan orang, tidak mau sembarangan jalan dengan orang. Dia sadar sekali dia cantik dan banyak yang mau berteman hanya karena asas manfaat dengannya. Orang-orang pop di sekolahnya (yang hobinya memendekkan rok abu-abu dan memakai seragam olahraga lebih ketat). Jadi, melihat Kahleen yang senantiasa angkuh dan dingin hari ini menyodorkan penghapus, itu membuat Mayang cukup kaget. Tetapi, Mayang tidak menghiraukan kekagetannya dan berpaling pada LJK, sebersih mungkin dia menghapus dalam satu menit dan memperbaiki jawabannya, yang kemudian dikumpulkan dengan satu keyakinan : nilainya sempurna. Beasiswa untuk tahun depan.
Suasana bucketkoFi sedang ramai karena hari itu hari Jumat. Orang-orang berlalu lalang di depannya, penasaran dengan slogan ‘Fresh from the Bucket’. Di tengah kerumunan yang sibuk berbincang dengan akrabnya, tiga-empat waitress kelimpungan mengantar mana yang Latte ,mana yang Triple Shot Wet Low Fat Decaf Cappuccino with Thin Foam. Ada satu-dua yang memesan Cheesecake dan Muffin, dan semuanya ada di baki waitress dengan superhati-hati supaya tidak jatuh. Tampak di satu meja di dalam took buku yang ada di dalam rumah kopi itu, seorang wanita cosmopolitan berusia 40-an dengan tas monogram trademark Louis Vuitton yang senada dengan sepatunya tengah sibuk mengatur posisi rak terbaru. Dia sesekali bicara di ponselnya, sesekali melihat keluar jendela display buku untuk mengawasi karyawan-karyawannya. Namanya Bu Sofi, dia bos di sini.
Mayang mengantarkan Double Latte pada seorang mahasiswa arsitektur yang tengah me-review rancangannya. Mahasiswa ini bukan orang sembarangan. Dia adalah member setia bucketkoFi. Dilihat dari kartu member-nya, namanya Ale Farco. Ale punya satu daya tarik yang membuat setiap orang menoleh dua kali padanya. Padahal, gayanya biasa saja. Mungkin itu tingginya, mungkin itu tegapnya, mungkin itu penampilannya yang tidak dibuat-buat dan seadanya, mungkin juga itu matanya yang tajam, atau mungkin karena dia itu orang yang enak dilihat. Ale sering sekali mengunjungi bucketkoFi, namun tak sekalipun Mayang sukses menyediakan kopi untuk dia. Hari ini Mayang beruntung bisa kebagian menyediakan kopi untuknya. Kenapa beruntung? Mudah saja, karena dari seluruh pengunjung, Ale paling muda dan paling enak dilihat.

&&TAMAT&&


UNSUR  INTRINSIK NOVEL

Ø  Tokoh Utama          : Mayang Mustika Puspa

Ø  Tokoh Tambahan  : - Om Sakta dan Tante Donna
  - Ibu Pudjiastuti
  - Kahleen Blanc
  - Ale Farco

Ø  Karakter Tokoh      :

·         Mayang Mustika Puspa
- Penyayang : Mayang melakukan apapun sekuatnya untuk melindungi  adiknya
- Bekerja keras : Dia bersumpah akan keluar dari sana. Tapi, bukan sekarang. Suatu saat kalau dia sudah punya kekuatan untuk itu.

·         Om Sakta dan Tante Donna
- jahat : Mereka tidak terlalu senang harus kedatangan penghuni baru karena keuangan mereka sendiri pas-pasan

·         Ibu Pudjiastuti
- galak : Pengawasnya cukup ketat, namanya Ibu Pudjiastuti, guru Biologi yang terkenal galak

·         Kahleen Blanc
- Angkuh, catat, bukan sombong : Dia tidak mau sembarangan bicara dengan orang, tidak mau sembarangan jalan dengan orang.

·         Ale Farco
- special/aneh : Ale punya satu daya tarik yang membuat setiap orang menoleh dua kali padanya. Padahal, gayanya biasa saja

Ø  Latar/setting                        :
·         Di kafe BucketkoFi
·         Di rumah Om sakta dan Tante Donna
·         Di sekolah Mayang

Ø  Amanat Cerita         :
·         Sesama saudara harus saling menyayangi
·         Sesama saudara harus saling mengasihi
·         Membantu orang yang sedang kesusahan
·         Hargailah orang lain, kalau ingin dihargai
·         Kepada orang yang lebih muda sebaiknya menyayangi, kepada orang yang lebih tua sebaiknya menghormati
·         Sesama manusia harus saling tolong-menolong


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kamis, 17 Mei 2012

tugas SINOPSIS NOVEL waktu kelas 8 :D


 
TUGAS SINOPSIS NOVEL
“MEMORABILIA”
Oleh : GINNY LYNN


Nama             : Rini Dwi Astuti
                      No/kelas         : 18/8B


MEMORABILIA
ADA sebuah jalan di daerah sibuk, di kompleks ruko pusat niaga. Di sana banyak orang dan mobil berlalu lalang. Banyak butik dan took buku, serta kafe berjejeran. Sekarang sudah malam, tetapi masih saja ramai. Salah satu kafe paling ramai adalah kafe yang berjendela besar dan berkanopi hitam strip putih vertical bertuliskan bucketkoFi. Kenapa bucket dan bukannya ember? Sebenarnya, nama bucket diambil dari kegemaran si pemilik, Ibu Sofia, dengan topi jenis buckethat. Karena itu, namanya bucket, bucketkoFi. Suasana di dalam sangat nyaman. Kafe yang agak luas ini berikut toko buku. Spesialisasinya buku seni untuk kalangan para seniman. Karena itu, tidak urung mejanya besar-besar dan lebar-lebar agar para seniman, dari arsitek sampai desainer mainan,  bisa leluasa membuat sketsa. Kamar mandinya kecil, maklum kamar mandi karyawan. Tetapi, lampunya terang. Di sana terdapat cermin standar yang sekarang memantulkan profil dara yang sudah berusia genap 17 tahun dua minggu lalu, bernama lengkap Mayang Mustika Puspa. Manyang tengah membuka seragamnya. Dan dari cermin terlihat jelas belulang rusuknya menonjol. Anak ini terlihat kurang makan. Tidak ada yang istimewa. Dia biasa saja. Wajahnya khas melayu dengan mata jernih cemerlang. Pada saat itu semuanya sempurna. Lalu, datang hari di mana ayahnya dipanggil tugas, sebagai seorang wartawan untuk meliput berita yang tidak pernah dimuat, yang merenggut jiwanya dan meninggalkan jasad untuk ditangisi. Yang tidak saja demikian nasib membuatnya jatuh, tapi juga menyerbu rumah satu-satunya, membakarnya, dan memerkosa ibunya yang begitu lembut dan baik hati, dan meninggalkan mereka dua tubuh untuk dilayat, tanpa atap, tanpa rumah, tanpa uang. Hanya Mayang dan Iswa. Mereka mengenangnya sebagai peristiwa Mei’98. Dan, mereka bukan satu-satunya orang yang menangis.
Mayang melipat seragamnya untuk dipakai lagi besok, dimasukkannya dengan hati-hati ke dalam ransel. Kemudian, dia menegakkan punggung dan memanggul ranselnya. Sama seperti ketika dia menegakkan punggungnya dan melapangkan dada, menerima fakta dia harus tinggal dengan kakak ayahnya, Om Sakta dan Tante Donna. Mereka tidak terlalu senang harus kedatangan penghuni baru karena keuangan mereka sendiri pas-pasan. Dan bukan hanya itu. Tinggal dengan keluarga Haraitoni berarti juga harus menghadapi Benji dan Novita, sepupunya. Dan, Mayang melakukan apapun sekuatnya untuk melindungi adiknya. Dia bersumpah akan keluar dari sana. Tapi, bukan sekarang. Suatu saat kalau dia sudah punya kekuatan untuk itu.
Mayang keluar dari bucketkoFi dan menuju halte bus. Malam sudah turun tanpa bintang, hanya ada lampu jalanan benderang. Satu, satu, satu yang mati dan nyala lagi. Mayang memandangi mobil berlalu-lalang. Besok ada ujian Matematika akselerasi. Dia belum belajar. Tubuhnya terasa begitu lelah, seperti mau patah-patah setiap engselnya. Sepertinya, kakinya tidak kuat untuk berjalan lagi. Dia lelah. Sudah empat malam dia begadang untuk belajar karena ujian akhir. Tidak ada pilihan untuk Mayang, dia murid beasiswa. Dia tidak pintar, tetapi hanya itu satu-satunya pilihan yang dia punya. Dia harus tetap sekolah. Mayang percaya itu keinginan orang tuanya.
Mayang membuka pagar pendek rumahnya. Dia tidak bisa berpikir apa-apa lagi selain tidur. Perut lapar bukan masalah, yang penting sesudah belajar dia langsung tidur. Melihat absennya Minivan om dan tantenya, Mayang bisa menduga mereka pergi lagi ke kondangan atau acara-acara seperti itu. Baguslah, pikir Mayang, dia capek. Dia tidak berniat bertemu dengan tantenya sekarang. Apalagi omnya. Tapi begitu dia masuk, dia sadar, ada mobil pacar Novita. Mayang tidak mau peduli lagi, dia mau masuk, mandi kilat, belajar kilat, tidur secepat kilat.
Sementara itu, di bucketkoFi yang setengah jam yang lalu ditinggalkan Mayang, teman sejawatannya, Listy, tengah bersiap untuk menutup kafe. Lalu, dia mematikan lampu. Dan matanya terpaku, sekali lagi, pada tiga potret hitam putih yang dicetak besar dan dipajang di tembok di sebelah mural. Potret seorang ibu menggendong anaknya, potret matahari di balik gedung tinggi, yang membuat gedung itu tampak hitam, dan yang paling besar, potret bucketkoFi ketika hujan. Setiap melihatnya, Listy selalu merasakan getaran yang sama, bagaimana emosi, arti, dan nyawa, semuanya tertangkap, terlihat jelas pada setiap potret. Semua pengunjung nukan hanya indah, tetapi seperti punya arti tersendiri. Seperti orang ratu memakai topeng. Artinya tersembunyi. Dan para penontonnya hanya bisa menebak karena potretnya begitu hidup, begitu nyata, di sana.
Saat itu, Mayang ingat sekali ia sedang ujian bahasa. Pengawasnya cukup ketat, namanya Ibu Pudjiastuti, guru Biologi yang terkenal galak (sebenarnya kata disiplin lebih pantas. Tetapi, tidak ada yang mengakui kalau Bu Pudji adalah guru yang disiplin sebelum satu tahun sesudah ia pensiun). Mayang sudah sampai nomor terakhir ketika dia sadar kalau nomor 47 di lembar jawaban komputernya ada dua yang ia hitami. Lalu, dia mencocokkan soal dan jawaban. Mampus, dia mengeluh dalam hati. Dia salah nomor. Lihat sekarang, dia mengerjakan nomor 49, padahal soalnya nomor 50. Hal seperti ini jarang sekali terjadi pada Mayang, mengingat dia sangat hati-hati. Tetapi, kali ini kejadiannya seperti ini. Dia mengaduk-aduk kotak pensil. Dan sialnya, dia lupa bawa penghapus. Dia melirik jam, masih ada setengah jam lagi. Dia harus ke depan, ke tempat dimana tasnya berada, dan mengambil penghapus yang dia yakin sekali ada di kantong depan tasnya. Tapi, dengan Bu Pudji jadi pengawas?... sejenak dia ragu. Tapi kalau dia tidak ke depan dan mengambil penghapusnya, bagaimana dia bisa selamat? Mayang lalu mengambil risiko dengan berjalan ke depan diiringi kepala-kepala naik dengan penasaran dan memberanikan diri bertanya.
Yang Mayang ingat lagi, saat itu teman-teman sekelasnya sudah tidur lima belas menit menjelang bel ujian selesai. Sementara Bu Pudji sedang bercakap-cakap tentang pasar di lingkungan sekolah yang kemarin terbakar. Mayang juga nyaris tidur kalau bukan mengingat dua jawaban yang dia tahu pasti sempurna itu harus salah. “Nih,” seseorang memberikan penghapus Faber Castell yang masih rapi berwarna hijau padanya. Orang itu duduk di sebelahnya, bernama Kahleen Blanc. Dia adalah anak dari pensiunan diplomat Prancis dan seorang wanita santun berdarah Sunda. Kahleen terkenal karena cantik. Kulitnya putih susu, mengimbangi tubuh kurus, dan tingginya, membuatnya terlihat sebagai Gwyneth Paltrow dengan mata besar dan rambut hitam. Hidungnya ramping sekali, dan kulitnya mulus. Dan terlebih, Kahleen Blanc terkenal karena dia adalah seorang ballerina. Sering sudah dia pentas di karya tari kenamaan Indonesia. Beberapa kali menari di Australia, bahkan Inggris. Dan kalau dia tidak masuk sekolah, teman-teman sekelasnya akan rebut sekali, ke mana Kahleen? Hari ini dia pentas di mana?
Saat disodori penghapus oleh Kahleen, Mayang kaget. Kaget karena ada yang mau menolong dia dan kaget karena yang menolongnya adalah Kahleen. Reputasi Kahleen tidak bisa lagi dipungkiri kalau dia adalah orang yang terkenal. Mungkin karena itu juga, Kahleen cenderung angkuh. Angkuh, catat, bukan sombong. Dia tidak mau sembarangan bicara dengan orang, tidak mau sembarangan jalan dengan orang. Dia sadar sekali dia cantik dan banyak yang mau berteman hanya karena asas manfaat dengannya. Orang-orang pop di sekolahnya (yang hobinya memendekkan rok abu-abu dan memakai seragam olahraga lebih ketat). Jadi, melihat Kahleen yang senantiasa angkuh dan dingin hari ini menyodorkan penghapus, itu membuat Mayang cukup kaget. Tetapi, Mayang tidak menghiraukan kekagetannya dan berpaling pada LJK, sebersih mungkin dia menghapus dalam satu menit dan memperbaiki jawabannya, yang kemudian dikumpulkan dengan satu keyakinan : nilainya sempurna. Beasiswa untuk tahun depan.
Suasana bucketkoFi sedang ramai karena hari itu hari Jumat. Orang-orang berlalu lalang di depannya, penasaran dengan slogan ‘Fresh from the Bucket’. Di tengah kerumunan yang sibuk berbincang dengan akrabnya, tiga-empat waitress kelimpungan mengantar mana yang Latte ,mana yang Triple Shot Wet Low Fat Decaf Cappuccino with Thin Foam. Ada satu-dua yang memesan Cheesecake dan Muffin, dan semuanya ada di baki waitress dengan superhati-hati supaya tidak jatuh. Tampak di satu meja di dalam took buku yang ada di dalam rumah kopi itu, seorang wanita cosmopolitan berusia 40-an dengan tas monogram trademark Louis Vuitton yang senada dengan sepatunya tengah sibuk mengatur posisi rak terbaru. Dia sesekali bicara di ponselnya, sesekali melihat keluar jendela display buku untuk mengawasi karyawan-karyawannya. Namanya Bu Sofi, dia bos di sini.
Mayang mengantarkan Double Latte pada seorang mahasiswa arsitektur yang tengah me-review rancangannya. Mahasiswa ini bukan orang sembarangan. Dia adalah member setia bucketkoFi. Dilihat dari kartu member-nya, namanya Ale Farco. Ale punya satu daya tarik yang membuat setiap orang menoleh dua kali padanya. Padahal, gayanya biasa saja. Mungkin itu tingginya, mungkin itu tegapnya, mungkin itu penampilannya yang tidak dibuat-buat dan seadanya, mungkin juga itu matanya yang tajam, atau mungkin karena dia itu orang yang enak dilihat. Ale sering sekali mengunjungi bucketkoFi, namun tak sekalipun Mayang sukses menyediakan kopi untuk dia. Hari ini Mayang beruntung bisa kebagian menyediakan kopi untuknya. Kenapa beruntung? Mudah saja, karena dari seluruh pengunjung, Ale paling muda dan paling enak dilihat.

&&TAMAT&&


UNSUR  INTRINSIK NOVEL

Ø  Tokoh Utama          : Mayang Mustika Puspa

Ø  Tokoh Tambahan  : - Om Sakta dan Tante Donna
  - Ibu Pudjiastuti
  - Kahleen Blanc
  - Ale Farco

Ø  Karakter Tokoh      :

·         Mayang Mustika Puspa
- Penyayang : Mayang melakukan apapun sekuatnya untuk melindungi  adiknya
- Bekerja keras : Dia bersumpah akan keluar dari sana. Tapi, bukan sekarang. Suatu saat kalau dia sudah punya kekuatan untuk itu.

·         Om Sakta dan Tante Donna
- jahat : Mereka tidak terlalu senang harus kedatangan penghuni baru karena keuangan mereka sendiri pas-pasan

·         Ibu Pudjiastuti
- galak : Pengawasnya cukup ketat, namanya Ibu Pudjiastuti, guru Biologi yang terkenal galak

·         Kahleen Blanc
- Angkuh, catat, bukan sombong : Dia tidak mau sembarangan bicara dengan orang, tidak mau sembarangan jalan dengan orang.

·         Ale Farco
- special/aneh : Ale punya satu daya tarik yang membuat setiap orang menoleh dua kali padanya. Padahal, gayanya biasa saja

Ø  Latar/setting                        :
·         Di kafe BucketkoFi
·         Di rumah Om sakta dan Tante Donna
·         Di sekolah Mayang

Ø  Amanat Cerita         :
·         Sesama saudara harus saling menyayangi
·         Sesama saudara harus saling mengasihi
·         Membantu orang yang sedang kesusahan
·         Hargailah orang lain, kalau ingin dihargai
·         Kepada orang yang lebih muda sebaiknya menyayangi, kepada orang yang lebih tua sebaiknya menghormati
·         Sesama manusia harus saling tolong-menolong


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar